Kamis, 08 Maret 2012

Budidaya Markisa



Deskripsi
Markisa tergolong ke dalam tanaman genus Passiflora, berasal dari daerah tropis dan sub tropis di Amerika.
Nama lain yang dikenal untuk buah ini antaranya maracujá (Portugis), maracuyá (Spanyol), Passion Fruit (Inggris), Granadilla (Amerika Selatan dan Afrika Selatan), Pasiflora (Israel), Lilikoʻi (Hawaii), dan Lạc tiên, Chanh dây atau Chanh leo (Vietnam). Di Indonesia terdapat dua jenis markisa, yaitu markisa ungu (passiflora edulis) yang tumbuh di dataran tinggi, dan markisa kuning (passiflora flavicarva) yang tumbuh di dataran rendah. Beberapa daerah yang menjadi sentra produksi markisa ini antara lain Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. Sementara itu, ada pula varian markisa yang tumbuh di daerah Sumatera Barat yang disebut sebagai markisa manis (passiflora edulis forma flavicarva).
 
Perbanyakan Tanaman
1. Perbanyakan dengan biji
Tanaman markisa biasanya tumbuh dari biji. Untuk memperoleh bibit yang baik dari biji, diperlukan buah yang matang dipohon dengan cirri-ciri kulit buah berwarna keungu-unguan atau kira-kira 75% ungu (jenis passiflora edulis Sims), berwarna kekuning-kuningan atau kira-kira 60% kuning untuk jenis P. Flavicarva. Buah tersebut dipetik langsung dari pohon kemudian disimpan selama satu atau dua minggu sampai buak berkerikut dan matang sempurna sebelum bijinya dikeluarkan. Bila biji segera disemaikan, maka akan berkecambah Selma 2-3 minggu. Bila lendir yang meletak pada biji dibersihkan dan disimpan akan menurunkan daya kecambah.
Persemaian dapat dilakukan pada bak-bak pesemian atau bedengan, tergantung kebutuhan. Bak semai dapat terbuat dari kayu atau bak plastic. Bedengan dengan lebar 1 m, panjangnya disesuaikan dengan kebutuhan. Media pesemaian dapat berupa campuran pasir/sekam ditambah pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 1:1:1. pada media pesemaian dibuat larikan-larikan kecil berjarak 7-10 cm. Jarak semai di dalam larikan diusahakan tidak terlalu rapat (3-4 cm). Tempat pesemaian diberi naungan untuk melindungi bibit dari sinar matahari dan hujan yng berlebihan. Pada umur 4 minggu setelah semai, bibit disapih atau dipindahkan ke kantong plastik hitam (polybag) berukuran 10x15 cm yang berisi media pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 2:1. Pada tiap polybag ditanam 1 bibit. Bibit tersebut ditempatkan di tempat teduh dan disiram setiap hari.
2. Perbanyakan dengan Grafting
Selain dengan biji, markisa juga dapat diperbanyak dengan cara, grafting (sambung), atau stek. Bagian tanaman yang akan dijadikan stek baiknya diambil dari tanaman yang cukup tua dan berkayu, ruasnya 3-4. Bibit dari stek yang berakar siap ditanam pada umur 90 hari. Pengakaran stek dapat dipercepat dengan perlakuan hormon.
Penyambungan memegang peranan penting terutama dalam melestarikan spesies-spesies hibrida dn mengurangi kerusakan Karen serngan nematode dan penyakit dengan menggunkan batang baeaw jenis markisa P. flavicarva. Mata tunas (entries) diambil dari cabang yang sehat, sebaiknya dari tanaman yang sudah tua. Diameter entries disesuaikan dengan diameter batang bawah. Cara penyambungannya dapat dengan sambungan celah atau sambungan samping.

 
Pemilihan kebun Kebun yang akan ditanami markisa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan agroekologi varietas yang akan ditanam. Letaknya dipilih yang strategis, mudah dijangkau, pengangkutan sarana produksi dapat dilakukan dengan mudah, dekat dengan pasar, tenaga kerja didaerah tersebut cukup tersedia, dan dekat dengan sumber air. Kalau kondisi ini terpenuhi, maka biaya produksi dapat ditekan.

Penyiapan lahan
Lahan yang akan ditanami markisa, terlebih dahulu dibersihkan dari tanaman pengganggu atau gulam. Pada lahan yang kelerengannya >15%, pembersihan gulam perlu dilakukan secara hati-hati karena peluang terjadinya erosi cukup tinggi. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan mengikuti garis contour dan dilakukan seminimal mungkin (minimum tillage). Pada tempat-tempat tertentu dibuat teras dan sebaiknya diatasnya dapat ditanami tanaman penguat teras atau pecan ternak seperti rumput gajah, rumput raja, gamal, yang sekaligus dapat mencegah erosi.


Jarak tanam

Setelah tanaman pengganggu dibersihkan, selanjutnya dibuat lubang tanam dengan jarak 3x3m atau 2x4m, atau 3x5m tergantung pola tanam nya. Bila akan dilakukan penanaman tanaman sela diantara tanaman markisa maka sebaiknnya dipakai jarak tanam renggang, misalnya 3x4m, 3x5m. bila markisa ditanam secar monokultur, maka dipakai jarak tanam rapat, misalnya 2x3m. lubang tanam dibuat mengikuti garis contour(tanah berlereng). jarak tanam yang digunakan adalah 2x5 m, yaitu 2 m jarak antara baris tanaman dan 5 m jarak antar tanaman. Dengan demikian jumlah tanamannya adalah 1.000 pohon per ha.  Tanah digali dengan ukuran 50x40x40 cm. tanah bagian atas dicampur dengan pupuk kandang ±20kg, kemudian dimasukkan kedalam lubang kembali dan dibiarkan selama beberapa hari.

Penanaman sebaiknnya dilakukan pada musim hujan untuk menghindari terjadinya styress karena kekurangan air. Selama tanaman masih muda (0-7)bulan, pada setiap pohon diberi ajir dan diikat dengan tali rafiah pada ajir terebut. Penyiraman disesuaikan dengan keadaan cuaca.


Pengairan

Pada musim kemarau, tanaman perlu diairi sehingga tanaman tetap dapat berbuah. Pada lahan dengan pengairan teknis pengairan dapat dilakukan dengan penggenangan sampai kira-kira mencapai kapasitas lapang, dilakukan sekali seminggu. Sedang pada lahan yang tidak tersedia pengairan teknis, pengairan dapat dilakukan dengan membuat tempa-tempat penampungan air, seperti kolam, drum, kemudian diambil dengan ember dengan volume penyiraman 5-7 liter per pohon, dilakukan dua kali seminggu.


Pemupukan
Agar produktivitas tanaman markisa dapat dipertahankan (jumlah dan kualitas), diperlukan hara tambahan, baik melalui tanah maupun lewat daun. Karena dalam 2 sampai 3 tahun, produktivitas tanaman akan menurun bila tidak dilakukan suplai hara. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memupuk tanaman markisa adalah :

  1. a. Umur dan fase pertumbuhan tanaman
  2. b. Kesuburan tanah yang akan dipupuk.dalam hal ini diperlukan data hasil analisis tanah pada lokasi penanaman.
Kedua faktor tersebut akan menentukan tingkat efektifitas pemupukan, karena terkait dengan jenis, jumlah, cara dan waktu pemberian pupuk. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman markisa memerlukan pupuk organic dan anorganik (buatan). Jenis, dosis, waktu dan cara aplikasi pupuk yang dianjurkan pada tanaman markisa asam (passiflora edulis sims) dicantumkan pada tabel berikut :
Jenis Pupuk
Dosis per Tahun
Waktu Pemupukan
Cara Pemupukan
Pupuk Kandang
10 kg /pohon
2 minggu
sebelum tanam
Dicampur dengan tanah
saat menggali lubang tanam
NPK (15:15:15)
1.000 g /pohon
3 kali setahun
(selang 4 bulan)
Diberikan melingkari lubang tanaman ±20 cm dari pohon
Urea
500 g /pohon
2 kali setahun (awal & akhir musim hujan)
Diberikan dalam larikan
±15 cm dari pohon
TSP
400 g /pohon
2 kali setahun (awal & akhir musim hujan)
Diberikan dalam larikan
±15 cm dari pohon
KCL
300 g/ pohon
2 kali setahun (awal & akhir musim hujan)
Diberikan dalam larikan
±15 cm dari pohon
Pupuk Kandang
50-75 kg /pohon
Awal musim hujan
Disebarkan dekat pohon
Urea
300 g /pohon
Awal musim hujan
Dalam larikan
KCL
150 g /pohon
Awal musim hujan
Dalam larikan

Pembuatan Para-Para 
Tanaman markisa merupakan tanaman merambat. Oleh karena itu untuk memperoleh produksi yang optimal, diperlukan rambatan (para-para) yang sesuai. Para-para ini dapat dibuat dari bambu (batang, tajuk) atau kawat. Pada pertanamn dipekarangan, sebaiknya ramabatan dibuat dengan sistem para-para. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk pertanaman skala luas, tiang rambatan sebaiknya dipakai tiang-tiang dari kayu yang tahan terhadap hujan dan tidak disukai rayap atau dapat pula dipakai kayu hidup seperti gamal/glirisida. Tinggi tiang ±2,5 m dan ditanam di dalam tanah sedalam 50 cm, jarak antara satu tiang dengan tiang berikutnya 3-5 m.

Pemangkasan

Pemangkasan pada tanaman markisa memegang peranan penting karena dengan pemangkasan produktivitas tanaman dapat ditingkatkan. Pemangkasan hendaknya dipilih pada waktu pertumbuhan baru terlihat (keluar tunas pada pucuk baru). Selanjutnya setelah buah dipungut, pemangkasan dilakukan pula untuk membuang cabang-cabang yang mati dan daun-daun yang kering. Pemotongan cabang yang panjang perlu pula dilakukan, terutama untuk meransang keluarnya cabang buah lebih banyak. Cabang yang dibiarkan tumbuh adalah 4 cabang utama. Pemangkasan ini dimaksudkan agar tanaman markisa dapat gerbunga dan berbuah secara terus-menerus.


Pola Tanam

Meskipun dapat ditanam secara monokultur, akan tetapi lebih menguntungkan dilakukan penanaman dengan cara tumpang sari antara markisa dengan tanaman sayuran. Beberapa jenis tanaman sayuran yang cocok diusahakan diantara tanaman markisa adalah tomat, kentang, kubis, buncis, brokoli, dengan R/C ratio masing-masing secara berturut-turut 1,26:1,21:1,44:1,47:1,44.
 

Hama, Penyakit dan Pengendaliannya

Hama

Hama yang banyak menyerang tanaman markisa adalah:
a. Kutu Daun (Macrosphun sp)

Kutu berwarna hijau dengan bagian kepala berwarna merah kekuning-kuningan, dada berwarna coklat dan pada bagian punggung terdapat garis melintang kebelakangberwarna hijau gelap. Kutu berukuran kecil, panjang tubuh berkisar 2-2,5 mm. kutu menerang tunas atau daun-daun muda dengan cara mengisap cairan tanaman, sehingga helaian daun mengalami perubahan bentuk, memilin dan berkeriput.
Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan sanitasi kebun dan pemeliharaan tanaman yang baik, misalnya dengan pemupukan yang tepat dan berimbang.
b. Hama Pemakan Daun
Bentuk kepala memanjang menyerupai moncong, alat mulutnya terdapat pada moncong tersebut. Kumbangnya berukuran kecil, panjang tubuh kira-kira 5-10 mm, berwarna hitam kebiru-biruan. Kumbang ini memakan tunas-tunas daun muda sehingga daun berlubang-lubang.

c. Kutu Buluh Putih

Kutu buluh putih menyerang batang dan ranting-rnting tanaman. Kutu buluh putih secara bergerombol menyelimuti seluruh permukaan tanaman yang terserang dan secara langsung mengisap cairan tanaman pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan sanitasi kebun dan pemeliharaan tanaman yang teratur.


Penyakit
Penyakit utama yang menyerang tanaman markisa adalah :
1. Penyakit Bercak Coklat (Alternaria passiflorae)
Penyakit ini pertama kali dilaporkan menyerang tanaman markisa diindonesia pada tahun 1964. Patogen menyerang batang, cabang, tangkai daun, daun dan buah. Serangannya ditandai oleh adanya bercak bercak coklat pada bagian tanaman yang terserang. Pada daun mula-mula terdapat bercak kecil, bulat berwarna coklat tua dan tembus cahaya, kemudian membesar, bagian tengahnya berwarna coklat muda. Pusat bercak menunjukkan gejala nerkotik dan warnanya berubah jadi besar. Pada serangan yang berat dapat menyebabkan tanaman gundul karena daunnya gugur. Pada batang/cabang yang terserang jug timbul bercak berwarna coklat dan memanjang. Jika bercak ini mengelilingi batang, maka cabang yang lebih muda disebelahnya akan mongering dan mati. Buah yang terinfeksi juga terdapat bercak berwarna coklat dan bagian yang terserang menjadi busuk. Konidium Alternaria passiflorae dapat disebarkan melalui angin atau hujan dari buah, daun yang sakit atau yang gugur.

Patogen ini sangat cepat berkembang apabila cuaca lembab dan panas. Di Kabupaten Gowa dan Sinjai serangan berat biasanya terjadi menjelang musim hujan dan pada musim hujan. Pada waktu menjelang musim hujan, kelembaban udara cukup tinggi karena mendung, tetapi hujan belum turun. Menurut pengalaman petani searngan penyakit ini menyebabkan tanaman cepat mati (umur 3 tahun) dan produksinya dapat menurun hingga 40 %. Tingkat serangan penyakit ini cukup tinggi yaitu mencapai 60%. Dari 6 kultivar (umur 6 bulan) yang ditanam dikabupaten sinjai (1500 m dari permukaan laut), nampaknyan hanya kultivar ungu gowa dan ungu sinjai yabg kurang terserang(kurang dari 10%). Sedang kultivar ungu polmas, ungu brastagi, ungu toraja, dan ungu enrekang terserang lebih dari 50%.
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan : (a) mengatur tajuk tanaman agar tidak terlalu rapat dengan p[emangkasan yang teratur, (b) memangkas/membuang bagian tanaman yang terserang kemudian membakarnya (c) pemakaian fungisida meneb+zineb, menkozeb dengan konsentrasi 0.25%.
2. Penyakit Embun Jelaga (Capnadium sp)

Cendawan capnadium sp ini membentuk lapisan berwarna hitam, kering, tipis, merata sehingga permukaan daun tertutup. Pathogen ini secara langsung tidak mengakibatkan kerugian yang berarti bagi tanaman, tetapi dapat mneghambat terjadinya aktivitas yang berlangsung pada daun seperti fotosintesis dan transpirasi sehingga perkembangan tanaman terhambat.
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan sanitasi kebun dan penggunaan rambatan dan pemangkasan agar tajuk tanaman tidak saling menaungi.
3. Penyakit Bercak Diplodia (Diplodia sp)

Pada tanaman yang terserang, terutama pada batang terdapat bercak-bercak coklat yang menyebabkan batang kering dan buah menjadi keriput. Tangkai buah yang terserang berwarna coklat tua dan membusuk. Pembusukan lebih lanjut pada permukaan bagian tanaman yang terserang menyebabkan terbentuknya banyak badan buah jamur yang membentuk spora berwarna hitam. Pembusukan yang terjadi pada buah mengakibatkan buah menjadi lunak dan berair. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan membuang bagian tanaman yang terserang dan dibakar.
4. Penyakit busuk pangkal batang

Beberapa jenis cendawan yang dilaporkan menyebabkan penyakit busuk pangkal batang (coolar rot) di malysia,fuji, queesland, adalah phitophora cinnamomi dan p. nicotianae B de Han Var. parastica. Di indonesia penyakit ini ditemukan di sumatera utara. Tanaman yang terserang layu, menguning dan daun-daunnya gugur. Kulit pangkal batang diatas permukaan tanah pecah-pecah. Jika kulit dikelupas, tampak adanya pembusukan yang berwarna coklat kemerahan yang meluas keatas. Cendawan ini terutama menyerang dikebun-kebun yang berdrainase jelek. Cendawan menginfeksi akar-akar yang halus dengan spora kembara, atau dapat juga terjadi pada pangkal batang diatas permukaan tanah melalui luka-luka karena alat-alat pertanian. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan (a) pembuatan saluran drainase sehingga air tidak tergenang (b) sanitasi kebun (c) penggunaan para-para dari pucuk bambu dan dikombinasikan dengan fungisida provineb 56%+oksidil 10%.

5. Antraknose pada Daun (gloesporium sp)
Serangan dimulai pada pinggir daun dengan gejala daun menguning, kemudian berubah warna menjadi putih kelabu pada sebagian besar tepi daun, sehingga dun kelihatan seperti terbakar. Pada permukaan daun terdapat bintik-bintik hitam yang merupakan aservuli cendawan yang dalam suasana lembab akan membentuk massa konidium. Dibawah mikroskop terlihat cendawan dengan ciri konidium berbentuk oval, bening dan bersel satu.
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan mencegah kelembaban yang terlalu tinggi pada tanaman,misalnya dengan pembuatan para-para yang baik dan jarak tanam yang tidak rapat.
6. Periconia sp

Cendawan ini mempunyai konidia yang berwarna gelap, berbentuk panjang, lurus, dan bersel satu. gejala serangan ditandai dengan adanya bercak-bercak kuning pada batang yang akhirnya berwarna cokolat. Cendawan ini bersifat parasit atau saprofit pada berbagai jenis tanaman.

7. Penyakit Buah Berkayu
Pada tanaman yang terserang nampak gejela pada daun-daun muda yaitu belang-belang hijau atau kuning, berpola mosaik atau bercak cincin atau kadang-kadang berlubang. Daun ukurannya lebih kecil dari biasanya. Buah menunjukkan gejela berkayu, lebih kecil, permukaannya kasar dan tertutup oleh tonjolan-tonjolan bergabus. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini dapat menular melalui alat alat pertanian, serangga maupun gulma.
Penyakit dapat dikendalikan dengan (a) membersihkan (sanitasi) gulma didalam ataupun di sekitar kebun unutk mengurangi sumber inokulum (b) pembibitan jauh dari kebun markisa, atau tanaman kacang maupun tanaman labu.
 
Panen
Tanaman markisa yang berasal dari buah mulai berbuah setelah berumur 9-10 bulan, sedangkan yang berasal dari stek, mulai berbuah lebih awal, yaitu sekitar 7 bulan. Warna buah yang pada mulanya berwarna hijau muda, akan berubah menjadi ungu tua (edulis) atau kuning (flavicarpa) ketika masak. Sejak pembungaan diperlukan waktu 70-80 hari untuk menjadi buah masak. Buah yang masak akan terlepas dengan sendirinya dari tangkainya dan jatuh di atas tanah. Untuk mendapatkan kualitas sari buah yang baik, buah markisa harus dipanen minimal 75% tingkat kematangan Sari buah markisa ungu mempunyai rasa lebih manis dan beraroma lebih kuat dari pada markisa kuning. Produksi markisa ungu dari perkebunan rakyat bervariasi antara 5-10 ton ha per tahun, padahal produksi tersebut dapat ditingkatkan sampai 15 ton per ha per tahun. Dengan menggunakan sambung pucuk antara markisa kuning sebagai batang bawah dan markisa ungu sebagai batang atas, produksi markisa diharapkan akan meningkat antara 20-30 ton per ha per tahun
 
Markisa

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Spermathopyta
Ordo: Malpighiales
Famili: Passifloraceae
Genus: Passiflora
Spesies: P. edulis
Nama binomial
Passiflora edulis
Sims

8 komentar:

Poskan Komentar

komment disini ya..