Selasa, 06 Maret 2012

Hermada: Menanam Rumput, Mengganti Beras

''Enak juga ya rasanya,'' ujar Barbara Scholz. Koordinator Program The IB Foundation itu tengah mencicipi 'nasi' yang terbuat dari biji rumput Hermada ketika Republika menyapanya di sela-sela acara ''Demo Budidaya dan Olah Pascapanen Rumput Hermada'' di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Cilandak Jakarta Rabu lalu.
 Rumput Hermada? Mungkin anda belum kenal namanya. Memang rumput ini bukan asli Indonesia. Rumput ini berasal dari Jepang dan Amerika. Sejak tahun lalu rumput ini dikembangkan di Indonesia oleh PT Kharisma Promosindo dengan ujicoba di lahan seluas 30 ha yang tersebar di Kabupaten Gunung Kidul, Bantul dan Sleman.
 Di Jepang sendiri, tanaman ini diambil malainya untuk bahan baku sapu (salju). Karena di sini tak ada salju, maka sapu ini tentu saja bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti membersihkan lantai sebagaimana sapu ijuk yang telah kita kenal selama ini. Itu kalau kita mau. Sebab, faktanya, malai [baca: sapu salju] produksi Kharisma ini semuanya diekspor ke Jepang dengan harga delapan dolar AS per unit. Sedangkan harga malai di Indonesia saat ini Rp 6.000 per kg.
 Jepang, menurut Direktur PT Kharisma Promosindo, Hennie Siswati, masih membutuhkan sapu salju dalam jumlah yang besar. Seluruh malai yang dihasilkan dari lahan seluas 30 ha, itu semuanya dikirim ke Jepang. ''Jika masih ada lahan seluas 500 ha lagi, saya jamin semuanya akan bisa diekspor ke Jepang,'' ujar Hennie. Bahkan pasar ini bisa mencapai 3.000 ha untuk Eropa. Malai adalah hasil utama budidaya rumput Hermada.
 Sebagaimana jenis rumput lain, rumput Hermada lebih cocok ditanam di lahan kering. Rumput Hermada bisa dipanen sampai tiga kali. Panen pertama dilakukan dalam jangka waktu 55 hari setelah tanam, dan panen berikutnya setelah 45 hari kemudian. 
Berbeda dengan di Jepang, di sini, tak hanya malai yang dimanfaatkan. Daun dan bijinyapun bisa dimanfaatkan. Daunnya untuk makanan ternak dan bijinya bisa digunakan sebagai pengganti beras. ''Kami tertarik mengembangkan rumput ini karena manfaatnya yang multi fungsi,'' kata Hennie. 
Rasa 'nasi' biji rumput Hermada memang tak beda jauh dengan nasi. Cuma teksturnya agak liat dibanding nasi. Biji yang sudah tua [siap panen] berwarna hitam dengan ukuran setengah dari ukuran gabah. Setelah diselep, bijinya berwarna putih agak kemerahan. Biji yang sudah diselep ini harganya Rp 800 per kg. Bandingkan dengan beras yang saat ini harganya Rp 3.000-4.000 per kg.
 Tak cuma itu, tepung biji rumput ini bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan dan bahan olahan. Tentu saja dengan kandungan gizi yang tak kalah dengan beras (?). Hasil analisa dari Laboratorium Biokimia Nutrisi UGM memperlihatkan kandungan gizi biji rumput Hermada sebagai berikut:
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Jenis      Abu        Protein Kasar       Lemak       Serat Kasar       Karbohidrat --------------------------------------------------------------------------------------------------
Jepang   3,79              9,38                   4,16            8,26                     75 
AS           3,35            11,27                  5,19            8,53                     72 --------------------------------------------------------------------------------------------------
Beras       2-5              4,0-5,0               1-2              8-15                70-80 
 
Dari tabel tampak, biji Hermada punya kandungan protein dan lemak yang jauh lebih tinggi dari beras. Inilah kelebihan terpenting Hermada dari beras. Tujuan orang mengkonsumsi beras umumnya adalah untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat. Sementara dari Hermada, kita selain mendapatkan karbohidrat juga bisa memperoleh protein dan lemak.
 Tepung biji rumput Hermada bisa digunakan sebagai substitusi tepung terigu. ''Bisa untuk substitusi tepung terigu sampai 50 persen,'' kata Hennie. Tepung ini bernilai jual Rp 1.600 per kg. Harga ini jauh lebih murah dibanding dengan harga tepung terigu yang saat ini sekitar Rp 3.000.
 Temuan 'beras' baru ini asli Indonesia. Sebab belum ada satu negarapun, termasuk Jepang yang mengembangkan biji rumput Hermada sebagai sumber pangan. Pihak Kharisma sendiri kini tengah menunggu hak paten yang telah diajukannya ke Departemen Kehakiman. Begitu pula dengan uji klinisnya. ''Dua pekan mendatang hasil uji klinis itu sudah bisa kita ketahui,'' papar Hennie. Ia menambahkan meski secara de facto biji rumput ini aman dimakan, tapi secara de jure mesti dibuktikan dengan uji klinis dari Depkes, dalam hal ini Ditjen POM.
 Hasil uji klinis ini nantinya diharapkan semakin memperkuat posisi biji rumput sebagai pengganti beras (?). Masyarakat tak akan segan mengkonsumsinya karena sudah terbukti bergizi dan aman untuk kesehatan. Yang menjadi persoalan sekarang bisakah kita mengubah kebiasaan lidah masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur akrab dengan nasinya? Butuh waktu untuk itu.

0 komentar:

Poskan Komentar

komment disini ya..